Selasa, 15 Desember 2009

KASUS BAKSO TIKUS

Beretika atau Tidak Beretika :
” Investigasi Bakso Tikus “
( Sumber : Gatra dan Tempo Interaktif )

TV swasta Tran TV tiba – tiba mendapat hujatan para pedagang Bakso , sehari setelah penayangan liputan tentang bakso tikus dan pembuatan saos busuk pada pertengahan januari 2006 , menuerut pedagang bakso tersebut ,Tayangan Tran TV tersebut telah menurunkan omzet mereka hing 70 – 80 persen , karena pelanggan mereka jadi enggan untuk membeli bakso dan mereka nyaris bangkrut.
Tran TV telah dituding melebih – lebihkan tayangan tentang penjual bakso . Pada tayangan tersebut terlihat bagaimana seorang pedagang bakso yang mencampurkan bakso jualannya dengan daging tikus dan menjual saos busuk yang kemudian dijual pada komonitas . Walaupun isu tentang bakso tikus itu sudah jauh merebak pada tahun sebelumnya ,secara spontan tayangan ini mendapat reaksi cepat dari komunitas terutama pecinta bakso , yang memberikan respon langsung ” menjauhi ” Abang tukang bakso kesayangan mereka.
Tran TV juga tituding telah merekayasa tayangannya, dan hal ini dibantah oleh Ichwan Murni , staf juru bicara Tran TV , Iaya mengatakan bahwa tayangan yang mereka suguhkan bukan rekayasa . Mereka menyatakan bahwa apa yang mereka tayangkan Fakta yang mereka temukan di lapangan dan Tran TV bersedia memberikan saksi dan mengungkapkan para pelaku apabila dibutuhkan sebagai bukti demi penyelidikan Polisi.
Walaupun kemudian pihak Tran TV mencoba mengklarifikasi dengan acara makan Bakso bersama untuk menyatakan bahwa tidak semua penjual bakso melakukan hal tersebut.

DISKUSI :
Apakah pihak Tran TV bisa dibilang beretika atau tidak ? Disatu sisi Tran TV ingin melihatkan suatu Fakta ” Kebenaran ” di komonitas bahwa ada tindakan kriminal yang akan merugikan komunitas. Sedangkan disisi lain tayangan TranTV tersebut telah menurunkan omzet para pedagang bakso yang notabene adalah kalangan ekonomi lemah.

Pendapat Saya apakah pihak Tran TV beretika atau tidak sebelumnya bisa kita lihat permasaahan ini dari segala segi, dari sekian kasus pemberitaan media TV swasta Indonesia, yang memancing reaksi massa paling keras, tampaknya adalah kasus “bakso tikus.” Liputan eksklusif tim Reportase Investigasi Trans TV, semula hanyalah produk sampingan dari liputan tentang bakso yang mengandung bahan pengenyal boraks. Ini juga terkait dengan liputan sebelumnya, tentang penggunaan bahan pengawet formalin. Penggunaan boraks dan formalin sebetulnya lebih berbahaya bagi konsumen ketimbang daging tikus. Tetapi, justru segmen tentang “bakso daging tikus” itulah yang menimbulkan kehebohan.
Sekitar 500 tukang bakso, yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Bakso se-Jabotabek, berdemonstrasi di depan pintu gerbang stasiun Trans TV, Jakarta Selatan, 12 Januari 2006.Mereka memprotes penayangan segmen “bakso tikus” . Selain itu, para tukang bakso juga sudah menyiapkan 15 truk dengan massa dari Tangerang dan Bekasi untuk “menyerbu” Trans TV. Untungnya, berkat pendekatan persuasif dari pihak Trans TV, rencana itu akhirnya dibatalkan.
Secara kaidah jurnalistik, sebenarnya tidak ada yang salah dengan liputan factual itu, yang narasumbernya jelas dan dibuat secara berimbang. Namun, tukang bakso merasa berang, karena omzet penjualan mereka yang sudah merosot sejak merebaknya laporan tentang bakso dengan bahan pengawet formalin makin ambruk dengan ramainya isu “bakso tikus.”
Tekanan dari massa pedagang bakso dengan bisnis terkait (penjual daging sapi, bakmi, dan sebagainya) menghasilkan kesepakatan, di mana pihak Trans TV setuju untuk menghentikan penayangan segmen “bakso tikus” tersebut. Selama dua minggu sesudahnya, Trans TV juga menayangkan sejumlah event yang diselenggarakan oleh para tukang bakso, untuk menunjukkan bahwa banyak tukang bakso yang membuat bakso secara “benar.” Selain itu, diadakan kampanye makan bakso bersama di gedung Trans TV dan di Bandung. Namun, di luar itu, Trans TV tidak memberi kompensasi apapun dalam bentuk uang kepada para tukang bakso.

Dari apa yang disampaikan Tran TV ada pula cerita konsumen langsung yang mengalaminya namanya Sofyan Hadisaputra , Quality Assurance Section ,PT Panasonic Gobel Battery Indonesia ,Ph.+6221-88324681ext.257
Ceritanya saat itu Jum'at sore ia makan Bakso di warung bakso " Goyang Lidah " atau yang lebih populer disebut " GL " letaknya di pintu masuk kawasan Jababeka ( belok kiri dan sebelah kiri jalan dari arah dalam kawasan ) saat itu mendapatkan pengalaman yang paling buruk . dimana sore itu saat ia makan , karena sesuatu dan lain hal ia harus cuci tangan , dan saat itu ia pakasakan untuk cuci tangan ke belakang ( dapur ) dan pada saat itu akhwat tersebut terperanjat dan kaget bukan kepalang bercampur jijik karena melihat kepala tikus berjejer dimana badanya sedang di cincang , kontan saja ia menjerit sekuatnya namun tak bisa karena langsung di bekap seraya diintimidasi untuk tutup mulut dengan menawarkan uang Rp 500 ribu asalkan ia tidak menceritakan pengalaman yang yang ia alami ini pada orang lain , karena panik , takut dan jijik bercampur ia tak tahu harus berbuat apa ia langsung lari dan naik ankot ke kontrakanyadi daerah sempu ( tak jauh dari samsat cikarang ) , sesampainya dirumah ia langsung pingsan hingga hari Sabtu kemarin, setelah siuman teman kontrakanya mencoba untuk mencari tahu mengapa ia begitu histeris hingga pingsan selama 2 hari , dengan badan masih lemah gemetar dengan lirih ia menceritakan kalau sewaktu ia akna cuci tangan ia melihat aktifitas pencincangan tikus besar (tikus got kali ya.... ) yang sudah di bersihkan dari bulu bulunya. dan kontan saja teman sekontrakan yang waktu itu makan bakso bersamanya mual dan muntah karena tahu bakso yang ia makan kemungkinan adalah bakso Tikus !! sampai malam ini saat saya bertanya banyak tentang kasus ini operator saya tersebut sesekali masih ingin muntah karena manahan rasa mual dengan kebayang bakso yang ia makan adalah kemungkinan bakso tikus.

Dalam sistem perekonomian perusahaan diarahkan untuk mencapai tujuan mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin, sejalan dengan prinsip efisiensi. Namun, dalam mencapai tujuan tersebut pelaku bisnis kerap menghalalkan berbagai cara tanpa peduli apakah tindakannya melanggar etika dalam berbisnis atau tidak.

Hal ini terjadi akibat pedagang yang cenderung mencari keuntungan semata sehingga terjadi penyimpangan norma-norma etis,.bisa dibayangkan, dampak nyata akibat ketidak pedulian pelaku bisnis terhadap etika berbisnis adalah semakin serius dan merusak tatanan sosial budaya masyarakat.

Beberapa kendala sering dihadapi dalam menumbuh kembangkan etika bisnis :

Pertama, kekeliruan persepsi masyarakat bahwa etika bisnis hanya perlu diajarkan kepada mahasiswa program manajemen dan bisnis karena pendidikan model ini mencetak lulusan sebagai mencetak pengusaha. Persepsi demikian tentu tidak tepat. Lulusan dari jurusan/program studi nonbisnis yang mungkin diarahkan untuk menjadi pegawai tentu harus memahami etika bisnis. Etika bisnis adalah acuan bagi perusahaan dalam melaksanakan kegiatan usaha.

Kedua, pada program pendidikan manajemen dan bisnis, etika bisnis diajarkan sebagai mata kuliah tersendiri dan tidak terintegrasi dengan pembelajaran pada mata kuliah lain. Perlu diingat bahwa mahasiswa sebagai subjek didik harus mendapatkan pembelajaran secara komprehensif. Integrasi antara aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif dalam proses pembelajaran harus diutamakan. Sehingga masuk akal apabila etika bisnis aspek afektif / sikap dalam hal ini disisipkan di berbagai mata kuliah yang ditawarkan.

Ketiga, metode pengajaran dan pembelajaran pada mata kuliah ini cenderung monoton.Pengajaran lebih banyak menggunakan metode ceramah langsung.Kalaupun disertai penggunaan studi kasus, sayangnya tanpa disertai kejelasan pemecahan masalah dari kasus-kasus yang dibahas. Hal ini disebabkan substansi materi etika bisnis lebih sering menyangkut kaidah dan norma yang cenderung abstrak dengan standar acuan tergantung persepsi individu dan institusi dalam menilai etis atau tidaknya suatu tindakan bisnis. Misalnya, etiskah mengiklankan sesuatu obat dengan menyembunyikan informasi tentang indikasi pemakaian.

Keempat, etika bisnis tidak terdapat dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.Nilainilai moral dan etika dalam berperilaku bisnis akan lebih efektif diajarkan pada saat usia emas (golden age) anak, yaitu usia 4–6 tahun. Karena itu, pengajarannya harus bersifat tematik. Pada mata pelajaran agama, misalnya, guru bisa mengajarkan etika bisnis dengan memberi contoh bagaimana Sri Kresna berdagang dengan tidak mengambil keuntungan setinggi langit.

Kelima, orangtua beranggapan bahwa sesuatu yang tidak mungkin mengajarkan anak di rumah tentang etika bisnis karena mereka bukan pengusaha. Pandangan sempit ini dilandasi pemahaman bahwa etika bisnis adalah urusan pengusaha.Padahal, sebenarnya penegakan etika bisnis juga menjadi tanggung jawab kita sebagai konsumen. Orangtua dapat mengajarkan etika bisnis di lingkungan keluarga dengan jalan memberi keteladanan pada anak dalam menghargai hak atas kekayaan intelektual (HaKI),misalnya dengan tidak membelikan mereka VCD, game software, dan produk bajakan lain dengan alasan yang penting murah.

Keenam, pendidik belum berperan sebagai model panutan dalam pengajaran etika bisnis. Misalnya masih sering kita mendapati fenomena orangtua siswa memberi hadiah kepada gurunya pada saat kenaikan kelas dengan alasan sebagai rasa terima kasih dan ikhlas.Pendidik menerima hadiah tersebut dengan senang hati dan dengan sengaja menunjukkan hadiah pemberian orangtua siswa tersebut kepada tean sejawatnya dengan memuji-muji nilai atau besaran hadiah tersebut. Tidakkah kita sadari, kondisi seperti ini akan memberikan kesan mendalam pada anak kita?

Mengurangi praktik pelanggaran etika dalam berbisnis merupakan tanggung jawab kita semua. Sebagai pengusaha, tujuan memaksimalkan profit harus diimbangi peningkatan peran dan tanggung jawab terhadap masyarakat. Perusahaan turut melakukan pemberdayaan kualitas hidup masyarakat melalui program corporate socialresponsibility(CSR).

Pada saat kita berperan sebagai konsumen, seyogianya memahami betul hak dan kewajiban dalam menghargai karya orang lain. Orangtua harus menjadi model panutan dengan memberikan contoh baik tentang perilakuberbisnis kepada anak sehingga kelak mereka akan menjadi pekerja atau pengusaha yang mengerti betul arti penting etika bisnis.
Pemerintah sebagai regulator pasar turut berperan mengawasi praktik negatif para pelaku ekonomi. Sudah saatnya pemerintah mempertimbangkan etika bisnis termuat dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Peran aktif para pelaku ekonomi ini pada akhirnya akan menjadikan dunia bisnis di Tanah Air menjadi lebih baik

Kesimpulan :
Pihak Tran TV bisa dibilang beretika dia melihatkan suatu Fakta ” Kebenaran ” di komonitas bahwa ada tindakan kriminal yang merugikan konsumen . walaupun disisi lain tayangan TranTV tersebut telah menurunkan omzet para pedagang bakso yang notabene adalah kalangan ekonomi lemah.
Ini merupakan salah satu pembelajaran masyarat tentang etika didalam melakukan usaha bisnis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar